HFN lebih bermakna kenang sosok Usmar Ismail

id HFN 2019

HFN lebih bermakna kenang sosok Usmar Ismail

Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama para penerima apresiasi kesetiaan dan sertifikat kompetensi saat menghadiri acara puncak Perayaan Hari Film Nasional (HFN) di Kemendikbud, Jakarta pada Jumat (29/3/2019). (Bayu Prasetyo)

Mataram (ANTARA) - Peringatan Hari Film Nasional (HFN) ke-69 pada 2019 akan lebih bermakna dengan mengenang sosok Usmar Ismail sebagai pelopor drama modern di Indonesia dan juga Bapak Film Indonesia.

Pria kelahiran Bukittinggi Sumatera Barat itu mengawali kiprahnya dari panggung teater, kemudian terjun pada bidang perfilman Indonesia. Hari pertama syuting "Darah dan Doa" tanggal 30 Maret karya Umar Ismail lantas diperingati sebagai Hari Film Nasional (HFN).

"Selain seniman, dia (Usmar Ismail) juga sastrawan, tokoh militer, businessman, organisiator, dan wartawan. Ada unsur sosoknya begitu kuat. Dan untuk seperti itu, tidak gampang ditumbuhkan," ujar sutradara Garin Nugroho kepada Antara di Jakarta, Sabtu.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Usmar Ismail lahir pada tanggal 20 Maret 1921.

Usmar menunjukkan bakat sastranya sejak masih duduk di bangku SMP, saat dia bersama teman-temannya, antara lain Rosihan Anwar, ingin tampil dalam acara perayaan hari ulang tahun Putri Mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang.

Baca juga: Film Indonesia, tontonan dan tuntunan

Setelah duduk di bangku SMA, di Yogyakarta, Usmar semakin banyak terlibat dalam bidang sastra. Dia memperdalam pengetahuan dramanya dan aktif dalam kegiatan drama di sekolahnya. Dia juga mulai mengirimkan karangan-karangannya ke berbagai majalah.

Bakat Usmar berkembang saat bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang). Di tempat itu, dia bersama Armijn Pane dan budayawan lainnya bekerja sama untuk mementaskan drama.

Pada 1943, Usmar Ismail bersama abangnya, El Hakim, juga Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, serta H.B. Jassin mendirikan kelompok sandiwara yang diberi nama Maya.

Maya mementaskan sandiwara berdasarkan teknik teater Barat. Kehadiran kelompok sandiwara itu kemudian dianggap sebagai tonggak lahirnya teater modern di Indonesia.

Setelah masa proklamasi kemerdekaan, Usmar menjalani dinas militer dan aktif di dunia jurnalistik di Jakarta. Bersama dua rekannya, dia mendirikan surat kabar yang diberi nama Rakyat, juga sempat mendirikan harian Patriot dan bulanan Arena.

Baca juga: Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung

Usmar pernah dijebloskan ke penjara oleh Belanda karena dituduh terlibat kegiatan subversi ketika menjalankan profesi sebagai wartawan.

Sutradara film "Lewat Djam Malam" (1954) itu tercatat pernah bekerja sebagai wartawan politik di kantor berita Antara dan sedang meliput perundingan Belanda - RI di Jakarta, pada tahun 1948.

Pada perkembangan selanjutnya, Usmar mulai menaruh minatnya yang lebih serius pada perfilman.

Film-film yang pernah disutradarai oleh Usmar Ismail antara lain, "Darah dan Doa" (1950), "Enam jam di Yogya" (1951), "Dosa Tak Berampun" (1951), "Krisis" (1953), "Kafedo" (1953), "Tiga Dara" (1955) dan "Pejuang" (1960).

Usmar Ismail meninggal pada 2 Januari 1971 karena stroke dalam usia hampir genap 50 tahun.