Menggugat sebutan anak desa bodoh dan terbelakang

id Anak,Desa

Menggugat sebutan anak desa bodoh dan terbelakang

Bersama Syekh Sudays, Imam Masjidil Haram Makkah di UIN Malang tahun 2008.

Mataram (ANTARA) - Sebagai anak desa dan tinggal di wilayah pegunungan, saya sewaktu masih anak-anak sering diberi identitas sebagai “bodoh” dan “terbelakang”. Sekolah memang dijalani, tetapi tidak lebih dari Sekolah Dasar dan mengaji sore hari di mushala. Ejekan tersebut sebenarnya tidak salah.
      
Pekerjaan saya sehari-hari, pada pagi hari belajar di SD dan sorenya mengaji. Di sela-sela waktu tidak sekolah, sebagaimana anak desa pada umumnya, saya diberi tangungjawab oleh orangtua untuk mencari kayu bakar, merumput untuk keperluan ternak, ditambah lagi dengan berbagai kegiatan keluarga lainnya.
      
Sementara bermain olah raga cukup sepak bola menggunakan buah jeruk, bola kasti, dan lain-lain yang tidak berbiaya. Selain itu saya tidak pernah menikmati kesenian, kecuali menonton pertunjukan kuda lumping, ludruk, atau wayang kulit ketika tetangga hajatan.
      
Sekalipun tuduhan bahwa anak desa itu bodoh dan terbelakang adalah benar, namun saya dalam hati tidak terima. Menurut keyakinan saya, kebodohan dan keterbelakangan bisa diubah. Sekolah dan madrasah adalah tempat untuk mengubah nasib.
      
Ayah dan ibu di waktu senggang selalu menyuruh belajar agar kelak menjadi orang yang pintar dan mulia. Demikian pula guru di sekolah dan guru mengaji selalu meyakinkan bahwa kepintaran bisa dicari lewat sekolah dan usaha keras. Semangat yang ditanamkan oleh kedua orangtua selalu menggelora di dalam hati.
      
Selepas lulus SD, saya meneruskan ke SMP. Oleh karena tidak di semua kota kecamatan terdapat SMP, termasuk di kecamatan kelahiran saya, terpaksa saya sekolah ke lain kecamatan. Kemudian setelah lulus SMP, saya meneruskan ke SMA di kota Kabupaten.  
     
Keinginan untuk membuktikan bahwa antara desa dan kota adalah sama ternyata tidak mudah. Desa memang memiliki kultur berbeda dengan kota, sekalipun yang dimaksud dalam hal ini adalah kota kecil di Trenggalek. Saya lahir pada 2 Januari 1951 di Desa Gemaharjo, Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur.
      
Jarak desa tempat kelahiran saya ke kota kabupaten kurang lebih 32 km. Pada saat itu terasa jauh, karena belum ada sepeda motor, apalagi mobil seperti sekarang ini. Keadaan yang serba kurang tidak pernah menyurutkan semangat saya untuk maju dan berprestasi.
      
Saya mematut-matutkan diri agar seolah-olah saya seperti teman-teman anak kota. Tapi hal itu amat berat, karena pada kenyataannya saya memang kalah dalam berbagai hal seperti dari  penampilan dan pakaian yang saya kenakan.
      
Bahkan sepeda onthel yang saya gunakan sehari-hari tampak paling jelek. Begitu jeleknya, umpama ada pencuri, pasti dia tidak ada minat. Perasaan rendah diri menjadi sulit disimpan. Tetapi keinginan mengubah keadaan justru semakin keras.
      
Setelah lulus SMA, tanpa memikirkan persoalan biaya, saya pergi ke Malang untuk kuliah. Dalam pikiran saya, orangtua pasti tidak akan membiayai kuliah di kota besar. Bekal saya hanya tekat dan doa orangtua serta semangat untuk mengubah nasib.
      
Benar, di luar nalar yang dapat dipahami, selama kuliah dengan keadaan yang sangat terbatas, saya berhasil meraih prestasi. Alhamdulillah saya setiap kali ujian selalu lulus dengan nilai sangat bagus.
      
Waktu itu ada aturan bahwa siapa saja yang nilainya paling bagus bisa dibebaskan dari biaya kuliah oleh kampus. Saya memenuhi syarat itu. Akhirnya saya selama kuliah tidak pernah membayar SPP. Selain bebas biaya, prestasi yang saya raih menjadikan saya dikenal oleh para dosen senior di kampus.
 
Menjalani hidup seperti ada yang menuntun

Tidak sebagaimana waktu belajar di SD, SMP, dan SMA, ketika kuliah di perguruan tinggi, yaitu di IAIN Malang jurusan Bahasa Inggris, saya disebut pintar. Perasaan saya mengatakan bahwa saya tidak pintar-pintar amat, tetapi saya ketika ujian selalu bisa menjawab soal dan lulus dengan nilai bagus.
      
Ketika sudah lulus sarjana lengkap bergelar "Doktorandus" (Drs.), saya langsung ditawari menjadi asisten dosen. Tentu saya bersedia, karena saya sebelum lulus sudah berkeluarga. Saya oleh para dosen tidak saja dikenal pintar, tetapi bertanggung jawab serta terampil mengetik.
      
Itulah sebabnya banyak pekerjaan yang dipercayakan kepada saya untuk mengetik makalah atau buku yang dibuat oleh dosen. Apa saja perintah dosen, saya kerjakan sebaik-baiknya. Bagi saya, kepercayaan adalah kekayaan yang harus saya jaga sebaik-baiknya.
      
Oleh karena dikenal sebagai pekerja yang baik, setiap ada kegiatan seminar atau pertemuan apa saja saya selalu diajak serta, sekalipun peran saya hanya mengurus admisniatrasi, termasuk mengetik bahan-bahan seminar. Honornya tidak seberapa, tetapi dengan diikutkan kegiatan ilmiah itu saya menjadi dikenal oleh orang-orang penting.
      
Saya mengenal beberapa tokoh ilmuwan nasional sejak saya masih muda, misalnya Dr Nur Cholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Dr Muslim Abdurrahman, Dr Djohan Effendi, Prof Muchtar Buchori, Dawam Rahardjo, Prof Kuntjoro Ningrat, Prof Syafi’i Ma’arif, Lukman Harun, Djasman al Kindi, dan Prof Selo Sumardjan.
      
Selain mengetik makalah, saya seringkali mendapat tugas menjemput dan mengantarkan tamu-tamu penting itu ke stasiun atau airport. Dengan mengenal para tokoh ilmuwan, saya merasakan banyak sekali manfaatnya. Di antaranya, saya menjadi terbiasa membaca dan ikut membantu menulis makalah.
      
Atas dasar kepercayaan itu saya tidak saja mendapatkan tugas sebagai asisten dosen, tetapi juga diajak bergabung dan bekerja di Universitas Muhammadiyah Malang, bahkan dalam waktu yang tidak terlalu lama, sekalipun masih muda, saya diminta ikut memimpin kampus tersebut.
      
Di Universitas Muhammadiyah Malang, semula saya diangkat sebagai Wakil Dekan, lalu meningkat menjadi Dekan FISIP di perguruan tinggi itu. Tidak lama kemudian oleh karena dianggap berprestasi, saya diangkat sebagai Pembantu Rektor I. Saya menjabat di posisi itu cukup lama, sampai 13 tahun.
      
Atas dasar kepercayaan pula, setelah selesai menjabat sebagai Wakil Rektor I di Universitas Muhammadiyah Malang, saya memperoleh amanah memimpin Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang.
      
Kampus berukuran kecil itu saya kembangkan, baik dari sisi kelembagaan maupun sarana dan prasarana serta ketenagaannya, bahkan saya membuat konsep pendidikan tinggi Islam yang saya anggap bisa menjawab tantangan zaman.
      
Hasilnya, kampus STAIN Malang menjadi berkembang pesat, menyalip kampus-kampus perguruan tinggi Islam besar lainnya di Indonesia. Apa yang saya lakukan menarik banyak orang dan dianggap baru serta tidak dipikirkan oleh banyak orang sebelumnya.
      
Atas berbagai kemudahan itu, saya meyakini bahwa doa orangtua, kerja keras, dan selalu memohon kepada Allah dan rasulNya adalah kunci untuk memperoleh kemudahan dalam menjalani hidup.
      
Saya menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur bersama istri saya Hj. Sumarti. Kami dikaruniai empat anak dan delapan cucu. Adapun anak-anak kami yaitu Dr H Akhmad Farid Widodo, H Hasan Akhmad Wirawan, H Fuad Hasan Wicaksono ST MT, dan drg Hj Asma’ Putri Kamila.

Menjaga prestasi berbuah dikenal orang
 
Hal penting yang selalu menjadi pegangan saya adalah bahwa setiap memperoleh amanah, saya selalu berusaha mengerjakan dengan sebaik-baiknya, sehingga menjadikan saya dikenal dan dipercaya banyak orang. Rupanya dengan selalu menjaga amanah itu bisa membalik penilaian orang.
      
Atas dasar kepercayaan itu saya tidak pernah mencari jabatan, tetapi sebaliknya justru diminta untuk menduduki posisi yang dinilai banyak orang  sebagai tempat yang penting. Misalnya, saya ditunjuk menjadi Wakil Dekan, kemudian menjadi Dekan, berlanjut diberi amanah sebagai Wakil Rektor I dalam waktu yang cukup lama.
      
Setelah itu ditunjuk menjadi Ketua STAIN dan kemudian sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang dalam waktu melebihi ketentuan. Masa jabatan sebagai rektor maksimal delapan tahun, tetapi saya dipercaya hingga 16 tahun. Setelah jabatan di UIN berakhir, saya masih diminta menjadi pembina di beberapa perguruan tinggi swasta.
      
Atas dasar kepercayaan pula saya beberapa kali ditunjuk berceramah di Istana Negara dalam kegiatan peringatan hari besar Islam dan berkhutbah Idul Fitri di Masjid Istiqlal Jakarta. Selain itu saya pernah tercatat sebagai anggota organisasi Islam se-dunia, yaitu Rabithah alam al Islamy yang berpusat di Makkah.
      
Saya juga pernah diundang oleh Saddam Husein (Presiden Republik Iraq), Ba’asyir (Presiden Sudan), dan Raja Abdullah (Saudi Arabia) dalam kegiatan Janadriya, yaitu peringatan Hari Jadi Kerajaan.
      
Begitu pula saya hadir dalam berbagai kegiatan terkait pendidikan di beberapa negara di Eropa, yaitu Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, dan Inggris.
      
Saat ini saya masih dipercaya sebagai Ketua Umum Organisasi Islam Jam’iyyatul Islamiyah yang memiliki cabang di hampir semua provinsi di Indonesia dan beberapa negara, baik di Eropa maupun di Amerika, Asia, Australia, hingga Amerika Latin.
       
Terkait kegiatan tingkat internasional lainnya, saya pernah diundang dalam kegiatan konferensi umat beragama di Rusia dan di Tajikistan serta beberapa kali bertemu dengan Imam Masjidil Haram, yaitu Syekh Suraem dan Syekh Sudaes. Begitu pula Imam Masjid Nabawi, yaitu Syekh Budairi.
      
Masih terkait kunjungan ke berbagai negara untuk berbagai kegiatan, saya pernah berkunjung ke Jepang, Malaysia, Singapura, Australia, New Zealand, Amerika Serikat, Kanada, Maroko, sampai ke Amerika Latin, yaitu ke Bogota Colombia.
      
Dalam berbagai kunjungan tersebut, dalam satu negara, kadang saya datang hingga beberapa kali. Misalnya saja pada tahun 2019, dalam satu tahun diundang ke Rusia hingga dua kali.
      
Alhamdulillah saya berhasil mengubah nasib. Dalam menjalani hidup ini, sedikit banyak saya dikenal karena seringkali membuat sesuatu yang baru dan belum pernah terpikir oleh banyak orang.
      
Misalnya, melihat perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia hanya mengembangkan ilmu agama dalam pengertian sempit dan terbatas, saya berusaha mengubahnya.
      
Semula perguruan tinggi Islam hanya berupa sekolah tinggi dan institut serta hanya mengembangkan ilmu agama, maka ketika menjabat sebagai pimpinannya, saya membuat konsep, yaitu perguruan tinggi Islam yang secara keilmuan bersifat universal.
      
Saya mengubah bentuk kelembagaannya, dari sekolah tinggi menjadi universitas. Usaha itu tentu berat, tetapi ternyata berhasil, dan sekarang ditiru di berbagai kota besar di Indonesia.
      
Saya juga melihat kelemahan perguruan tinggi Islam lainnya sebagaimana pernah disampaikan oleh Prof Dr A Mukti Ali selaku Menteri Agama, dan masih juga selalu dirasakan oleh beberapa Menteri Agama berikutnya, yaitu pentingnya kemampuan berbahasa asing dan penguasaan metodologi kajian Islam.  
      
Pada saat saya menjadi rektor, saya selesaikan masalah itu dengan membuat program baru, yaitu memadukan antara tradisi pesantren modern (ma’had al aly) dengan tradisi perguruan tinggi Islam.
      
Sedangkan untuk mengatasi kelemahan di bidang bahasa asing, saya membuat program khusus, yaitu mewajibkan semua mahasiswa belajar bahasa asing pada setiap hari selama lima jam.
      
Hasilnya ternyata diakui sebagai kebijakan yang tepat oleh banyak kalangan. Program itu ternyata berhasil mengubah keadaan, di mana jumlah peminat masuk perguruan tinggi Islam menjadi berlipat-lipat.
      
Bahkan yang semula orang Indonesia belajar agama ke negara Arab ternyata menjadi berbalik, yaitu secara bertahap orang Arab belajar agama ke Indonesia. Di akhir saya menjabat rektor, mahasiswa asing yang belajar di kampus yang saya pimpin berasal tidak kurang dari 32 negara.
      
Hal lain yang tidak dilakukan oleh banyak orang adalah aktifitas menulis. Saya memiliki tradisi menulis artikel pada setiap pagi, tanpa pernah berhenti hingga selama sembilan tahun berturut-turut.
      
Atas prestasi itu, saya pernah mendapat penghargaan Muri, yaitu mampu menulis tanpa henti selama satu tahun, kemudian diberi penghargaan lagi ketika mencapai tiga tahun, dan seharusnya sekarang diberi lagi untuk menulis selama sembilan tahun.
      
Saya juga pernah menulis makalah hingga berjumlah sekitar 3600 judul. Demikian pula saya menulis buku, berjumlah tidak kurang dari 40 judul dan dicetak oleh beberapa penerbit.
      
Pengalaman tambahan, saya sejak kecil oleh orangtua dipesan agar nanti jika menjadi orang kaya, saya tidak lupa untuk membangun masjid. Syukur kalau masjid itu berukuran besar dan indah. Jika gagal menjadi orang kaya, membangun masjid kecil juga tidak mengapa.
      
“Tapi kalau kamu tidak menjadi orang kaya dan tak mampu membangun mushalla, apalagi masjid, maka bantulah orang yang sedang membangun masjid. Kalau tidak punya uang, bantulah dengan tenagamu. Tapi kalau kamu miskin dan lemah, saya tidak menyesal, asalkan kamu mau menjadi isinya masjid," kata orang tua saya.
      
Atas pesan orangtua tersebut saya selalu terlibat menjadi penggerak atau ketua panitia pembangunan masjid. Alhamdulillah hingga sekarang saya turut membangun tidak kurang dari 25 buah masjid di beberapa tempat.
      
Selanjutnya, melalui tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa prestasi hidup itu sejatinya dapat diraih oleh siapa saja, baik oleh orang desa maupun orang kota, dan baik oleh orang kaya ataupun orang miskin.
      
Modal utamanya adalah kemauan, kerja keras, amanah, dan yang terpenting adalah do’a kedua orangtua. Keikhlasan atau ridha orangtua adalah kunci keberhasilan hidup. Sementara bekal berupa uang, fasilitas, dan lain-lain memang penting, tetapi asalkan ada kemauan, apapun masalahnya akan dapat diatasi.
      
Maka, pesan saya, jangan bersedih menerima nasib, tetapi  harus bangkit dan mengubahnya sendiri. Wallahu a’lam…..

*Penulis Prof. Dr. Imam Suprayogo adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
Lulusan SMAN Trenggalek tahun 1970.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar