profil - Srikandi pejuang kebersihan dari Kota Tua Ampenan

id sampah plastik,bonsai plastik,krlompok fidia,kota tua ampenan

Dina Aprilina Wati, Ketua Kelompok Kerja Pengolahan Sampah "Fidia" , membuat karya seni berupa bonsa dan pohon sakuran dari limbah kantong plastik kresek. Foto Antara - Nirkomala)

....Kegalauannya atas kian menggunung tumpukan sampah, terutama limbah kantong plastik kresek yang mencemari lingkungan di Kota Mataram, memaksanya untuk berpikir keras bagaimana mengolah dan mendaur ulang limbah plastik menjadi karya seni yang berni
Mataram (Antaranews NTB) - Perempaun muda berkulit sawo mateng itu nampak tekun merangkai helai demi helai daun bunga terbuat dari limbah kantong plastik.

Tak jarang tangannya melepuh terkena tetesan plastik panas saat dibakar dan dibentuk menjadi daun untuk membuat karya seni pohon bonsai plastik.

Kegalauannya atas kian menggunung tumpukan sampah, terutama limbah kantong plastik kresek yang mencemari lingkungan di Kota Mataram, memaksanya untuk berpikir keras bagaimana mengolah dan mendaur ulang limbah plastik menjadi karya seni yang bernilai ekonomis tinggi.

Dina Aprilina Waty, perempuan kelahiran Pejeruk, Kecamatan Ampenan pada 27 April 1981 itu, layak disebut srikandi pejuang kebersihan, karena kegigihannya telah menghasilkan karya seni berupa bonsai terbuat dari limbah plastik kantong kresek yang bisa dijual dengan harga cukup tinggi.

Kalau pada masa sebelum kemerdekaan nama Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai tokoh perempuan yang getol berjuang menyetarakan hak dan derajat antara kaum perempuan dan laki-laki dalam menuntut ilmu.

Kini setelah kemerdekaan muncul sosok penggerak pembangunan bidang kebersihan lingkungan dari Kota Tua Ampenan, Kota Mataram yang berjuang mengatssi persoalan sampah, khususnya limbah kantong plastik yang berserakan hampir di setiap sudut Kota Mataram.

Karena kecintaan dan obsesinya menciptakan kebersihan lingkungan dari sampah kantong plastik yang selalu menjadi persoalan di seluruh kota besar, tak terkecuali di Kota Mataram yang juga merupakan Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Untuk mewujudkan impiannya dalam mengatasi kebersihan lingkungan, perempuan jebolan diploma (D3) Keuangan dan Perbankan ini kemudian membentuk Kelompok Kerja Pengolahan Sampah Fidia.

Sebagai Ketua Kelompok Kerja Pengolahan Sampah Fidia, ia mendorong pembuatan karya seni berupa bonsai plastik dan pohon sakura yang juga terbuat dari limbah kantong plastik.

Sekilas hiasan ruangan yang indah itu seperti tanaman bonsai asli. Pohon yang kerdil dihiasi daun-daun kecil dan akar yang terlihat kokoh menambah keindahan dari karya seni tanaman hias yang berasal dari Jepang tersebut.

Sejatinya berbagai jenis tanaman bonsai itu terbuat dari sampah plastik jenis kantong kresek, buah karya dari Kelompok Kerja Pengolahan Sampah Fidia di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Para pecinta lingkungan yang tergabung dalam Kelompok Kerja Pengolahan Sampah Fidia itu mengolah sampah plastik jenis kantong kresek menjadi pohon bonsai dan pohon sakura.

Perjuangan panjang yang tak kenal lelah dalam mengurangi limbah plastik yang selama ini menimbulkan pencemaran lingkungan membuahkan hasil. Tak hanya mengurangi limbah plastik, karya seni yang dihasilkan juga diminati banyak konsumen.

Dina Aprilina Wati menuturkan hasil karyanya berupa berbagai jenis tanaman bonsai dari sampah plastik sudah banyak diminati.

Ide membuat karya seni dari sampah plastik itu berangkat dari kesenangannya dengan tanaman bunga. Karena itu, ia berpikir bagaimana mengubah sampah plastik menjadi sebuah hasil karya seni yang indah berupa bunga plastik berbentuk bonsai.

Keberhasilan Dina Aprilina Wati bersama kelompoknya dalam menciptakan karya seni dari limbah kantong plastik itu patut diapresiasi. Menurut hasil penelitian setiap tahun masyarakat Indonesia termasuk di Kota Mataram memakai 100 miliar kantong plastik.

Kebiasaan sebagian masyarakat memakai kantong plastik yang diperoleh secara gratis sudah sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan perhitungan, setiap orang di Indonesia menggunakan sekitar 700 tas plastik per tahun atau kira-kira dua kantong plastik dalam sehari.

Ironisnya, banyak dari sampah kantong plastik tersebut tidak sampai ke tempat pembuangan sampah dan hanya sedikit yang akhirnya dapat didaur ulang. Hal itu menimbulkan persoalan lingkungan yang cukup serius.

Kondisi ini memunculkan keprihatinan yang kemudian mendorong Kelompok Kerja POengolahan sampah Fidia untuk memanfaatkan sampah platik kresek menjadi karya seni yang memberikan keuntungan secara ekonomis.

Perempuan yang kini menjadi karyawan di Dinas Kebersihan Kota Mataram ini mengaku keinginan untuk memnafaatkan limbah plastik itu sudah sejak lama, karena kebetulan ia aktif dalam sosialisasi penanganan sampah.



Persoalan Sampah

Pada 2014, perempuan pejuang kebersihan lingkungan ini membentuk Kelompok Kerja Pengolahan Sampah Fidia yang melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan sampan di Kota Mataram.

Setelah melihat banyak tumpukan sampah, termasuk kantong plastik yang tidak dimanfaatkan, mendorongnya untuk memanfaatkan limbah itu menjadi suatu karya seni yang memiliki nilai ekonomis.

Namun untuk mewujudkan impian membuat karya seni dari sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan utama dalam menjaga kebersihan lingkungan itu, tak semudah seperti yang dibayangkan.

Perjuangan panjang dan kerja keras yang tak kenal lelah dilakukan kelompok pecinta kebersihan lingkungan yang beranggotakan 10 orang itu dalam membuat karya seni dengan limbah plastik yang sekaligus untuk mengatasi limbah plastik, membuahkan hasil.

Setelah dilakukan uji coba beberapa kali, kelompok kerja pengelolaan sampah yang diketuai Dina Apriliana Waty ini akhirnya berhasil membuat aneka bonsai dari sampah plastik.

Limbah plastik dipanaskan hingga meleleh kemudian dibentuk sedemikian rupa, sehingga menjadi karya seni bernilai tinggi yang ternyata banyak diminati konsumen.

Untuk membuat satu bonsai dengan berat kurang dari satu kilogram, membutuhkan sampah plastik sekitar 100 kilogram, sementara harga jualnya bonsai plastik bekas mencapai Rp125.000 hingga Rp250.000 per pohon.

Dina Aprilina Waty menuturkan paling tinggi pohon sampah plastik yang dia buat adalah jenis sakura yang terjual dengan harga Rp1,5 juta. Ini memberikan keuntungan cukup besar.

Karenanya, ia berharap warga lain tertarik untuk ikut membuat karya seni dengan memanfaatkan limbah plastk.

Membuat karya seni dengan limbah kantong plastik, menurut dia, banyak suka dukanya, karena tak jarang tangannya terkena lem dan lelehan plastik panas ketika dibakar dan dibentuk menjadi daun dan batang bonsai.

Namun, kata perempuan tangguh pencinta lingkungan itu, rasa sakit terkena lelehan plastik panas tersebut akan hilang ketika ada orang yang membeli dan menghargai karyanya yang terbuat dari limbah kantong plastik.

Ia mengaku keberhasilnya mengubah limbah plastik menjadi sebuah karya seni ini juga berkat dorongan dan dukungan penuh dari suaminya yang juga bergerak di bidang seni.

Berbagai karya seni berupa bonsai terbuat dari limbah kantong plastik itu pernah ditampilkan di stan Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram yang digelar belum lama ini dengan jenis produk unggulan pengolahan plastik menjadi tanaman hias sakura dan bonsai.

Di stan Dinas Lingkungan Hidup yang digelar dalam rangka Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) juga dipamerkan juga hasil karyanya berupa pohon sampah plastik kresek, dengan berat 250 kilogram tinggi 2,5 meter yang banyak mengundang kekaguman dari para pengunjung.

Untuk membuat bonsai dari limbah kantong plastik membutuhkan waktu cukup lama, yakni sekitar dua tahun karena kekurangan sampah plastik sebagai bahan baku.

Selama pembuatan karya seni dari limbah kantong plastik yang membutuhkan bahan baku cukup banyak itu, ia bekerja sama dengan bank sampah dan pokja-pokja lainnya di Mataram untuk mendapatkan sampah kantong plastik kresek.

Pokja Fidia selama ini fokus mengembangkan kerajinan pengolahan sampah plastik menjadi pohon sampah plastik. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat baru kelompok ini yang mampu membuat pohon dari sampah plastik murni tanpa ada penyangga apapun.

Menurut dia, kalau di tempat lain mungkin ada, tapi bagian dalamnya disangga dengan kawat atau besi, sedangkan kelompok kerja yang dipimpimpinnya murni memanfaatkan sampah plastik.

Ia berharap hasil karyanya itu bisa dibuat oleh masyarakat secara luas agar dapat membantu pemerintah dalam upaya pengurangan sampah plastik di Kota Mataram. Bahkan, kalau mungkin di kabupaten dan kota lain di NTB.

Sejatinya, pembuatan karya seni dengan memanfaatkan limbah kantong plastik ini layak untuk dikembangkan, karena selain memberikan keuntungan secara finansial juga dapat mengurangi volume sampah plastik yang berdampak buruk terhadap lingkungan.

Sejatinya dengan perjuangan mengolah limbah kantong plastik menjadi karya seni yang bernilai ekonomis yang dapat menginspirasi perempuan lain untuk memanfaatkan sampah palstik.

Ole karena itu, tak berlebihan jika predikat Kartini masa kini layak disandang Dina Aprilina Wati asal Kota Tua Ampenan yang menjadi penggerak pembangunan bidang kebersihan lingkungan.(*)



 
Pewarta :
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar