Jumat, 18 Agustus 2017

Ntb Siapkan 400 Penyuluh "techno Park" Banyumulek - (d)

id tecnopark banyumulek
Ntb Siapkan 400 Penyuluh
Teknopark Banyumulek, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat
Sudah ada 400 orang yang dilatih, mereka berasal dari para pelaku usaha, penyuluh, maupun bakorluh. Nantinya mereka yang akan menyosialisasikan konsep `Techno Park` di Banyumulek ini"
Mataram, (Antara NTB) - Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat, telah menyiapkan 400 penyuluh yang bertugas untuk mensosialisasikan konsep "Techno Park" berbasis "Agro Edu Wisata" yang berlokasi di Banyumulek, Kabupaten Lombok Barat.

"Sudah ada 400 orang yang dilatih, mereka berasal dari para pelaku usaha, penyuluh, maupun bakorluh. Nantinya mereka yang akan menyosialisasikan konsep `Techno Park` di Banyumulek ini," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB Hj Budi Septiani kepada wartawan di Banyumulek, Sabtu.

Dijelaskannya, "techno Park" dibagi dalam enam klaster yang saling memiliki keterkaitan. Setiap klaster, diikuti lebih dari 50 penyuluh. "Nantinya penyuluh dari klaster-klaster inilah yang akan memberikan penyuluhan kepada masyarakat, khusus di bidangnya masing-masing," ujarnya.

Lebih lanjut, Koordinator Kegiatan dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Dr Roni Ridwan mengungkapkan, enam klaster yang dimaksud antara lain pengolahan pakan, pembibitan dan penggemukan sapi potong, pengolahan hasil sampling, pertanian organik terintegrasi, pengolahan pasca panen serta sosial ekonomi dan diseminasi.

"Ke enam klaster ini nantinya akan menjadi konsentrasi kegiatan yang ada dalam konsep `Techno Park`," ujarnya.

Klaster kegiatan pengolahan pakan, tutur Roni, bertujuan untuk mendapatkan prouk pakan sapi yang berkualitas, sehingga mampu mendukung produksi daing sapi. "Produk yang akan dikembangkan dalam klaster ini antara lain silase, pakan konsentrat, HMT dan pakan aditif probiotik," katanya.

Kemudian, untuk klaster kegiatan pembibitan dan penggemukan sapi potong akan dihasilkan sperma sapi bali "sexing". Selain itu, adanya paket teknologi "breeding" dan program penggemukan sapi.

"Pada tahap penggemukan, bibit akan disupplai dari sperma `sexing` dan `breeding`, sehingga bibit yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi," ucap Roni.

Selanjutnya, klaster kegiatan pengolahan hasil samping ini berguna untuk mendukung "Techno Park" yang sifatnya "Go Green". Sehingga diperlukan pengolahan limbah yang dapat menghasilkan produk lain dan bermanfaat.

Salah satu limbah yang dapat diolah yakni limbah kotoran sapi dan urin. Limbah kotoran sapi akan diolah menjadi biogas dan pupuk organik hayati, baik dalam bentuk padat maupun cair.

Untuk klaster kegiatan pertanian organik terintegrasi akan menggunakan pupuk organik hayati (POH) dan beberapa bibit unggul yang telah dihasilkan dari diseminasi produk LIPI.

Sehingga dengan menggunakannya, kata Roni, produk pertanian organik lebih aman dan sehat untuk dikonsumsi. Bahkan, dari segi ekonomisnya juga lebih menguntungkan karena memiliki harga jual tinggi dibandingkan dengan produk lainnya.

Kemudian, pada klaster kegiatan pengolahan pasca panen, bertugas untuk memproduksi produk yang berkualitas baik dari bahan baku daging maupun produk olahan.

Dalam tahapan ini akan dilakukan proses penyembelihan hewan ternak sapi yang didukung dengan sistem HACCP. Untuk menjaga keamanan konsumen, sistem ini telah mendapat status halal.

Terakhir, pada klaster kegiatan sosial ekonomi dan diseminasi ini nantinya akan mendorong berkembangnya kegiatan ekonomi masyarakat setempat, agar konsep yang dijalankan pada "Techno Park" dapat diaplikasikan secara berkesinambungan.

Kemudian untuk kegiatan diseminasinya, kata Roni, klaster ini akan memberikan pemahaman dan pelatihan kepada masyarakat agar beternak dengan metode baru yakni teknologi produk "Techno Park". (*) 

Editor: Masnun

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Baca Juga