Disdik meminta yayasan bertanggung jawab atas kesejahteraan guru

id disdik,mataram,covid

Disdik meminta yayasan bertanggung jawab atas kesejahteraan guru

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali di Mataram. (ANTARA/Nirkomala)

Mataram (ANTARA) - Dinas Pendidikan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, meminta pihak yayasan yang mengelola sekolah swasta agar bertanggung jawab atas kesejahteraan guru dan kepala sekolah, jangan sampai terkesan tidak peduli dengan kondisi guru di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali di Mataram, Senin, mengatakan justru dalam kondisi sulit seperti saat ini yayasan harus mampu menunjukkan kredibilitas agar dipercaya dan diakui sebagai sebuah yayasan besar dan bertanggung jawab.

"Yayasan jangan tidak peduli dengan kondisi guru atau kepala sekolah saat ini. Jangan sampai keliru, ada uang peduli, tidak ada uang tidak peduli," katanya menegaskan.

Pernyataan itu dikemukakannya menanggapi banyaknya guru dari sekolah swasta atau yayasan yang menyampaikan salah satu dampak siswa diliburkan, orang tua belum membayar SPP anak-anaknya.

Fatwir mengatakan, dalam kondisi inilah sekolah swasta harus mampu bagaimana merancang sebuah kegiatan sekolah agar anak-anak merasa tetap punya tugas sekolah dan merasa diawasi, serta bagaimana mengatasi masalah finansial.

"Ini memang menjadi urusan internal yayasan, akan tetapi jangan sampai merugikan pihak lain sebab kita semua tidak ada yang menginginkan berada pada kondisi seperti saat ini," katanya.

Karena itu, para guru yang berjasa di saat masih aktif pada kondisi normal jangan sampai ditelantarkan, apalagi yayasan telah diberikan dana bantuan operasional sekolah (BOS).

"Jadi, guru harus tetap digaji dan tidak boleh dikurangi haknya, kecuali ada kesepakatan dan kesepahaman kedua belah pihak," ujarnya.

Di sisi lain, Fatwir juga mengingatkan orang tua agar bisa memahami kondisi saat ini dengan tetap membayar SPP secara legowo. Pendidikan, bukan masalah jual beli ilmu (ada uang ada barang-red), tetapi ini kesadaran karena selama ini guru sudah mengajarkan.

"Guru tidak bisa mengajar seperti biasa bukan karena disengaja atau kemauan sendiri, melainkan karena faktor bencana, jadi orang tua harus bisa memahami hal itu," katanya.*
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar