Mataram (ANTARA) - Bayangkan hidup tanpa pupuk, obat, atau bahan bakar. Sulit dibayangkan, bahkan mustahil. Dari sawah petani hingga meja makan keluarga, dari kendaraan di jalan raya hingga gawai di genggaman, hampir semua kebutuhan manusia bersentuhan dengan produk kimia. Industri kimia, meski kerap tak kasat mata, sejatinya adalah urat nadi peradaban modern.
Namun, nadi itu rentan jika keselamatan proses diabaikan. Sejarah mencatat tragedi Bhopal, India, 1984, ketika kebocoran gas beracun merenggut puluhan ribu jiwa. Peristiwa itu menjadi peringatan keras yang membekas bahwa industri yang menopang kehidupan bisa sekaligus menjadi sumber bencana. Dan ancaman semacam itu bukan hanya cerita jauh di sana. Potensi itu bisa hadir di halaman industri kita sendiri bila kita abai.
Itulah sebabnya, ketika saya dikukuhkan sebagai Guru Besar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam bidang Rekayasa Sistem Proses dan Keselamatan Proses, saya mengusung tema, “Sustainabilitas Industri Kimia melalui Rekayasa Sistem dan Keselamatan Proses.” Pesan yang ingin saya garis bawahi sederhana namun mendasar, yakni bahwa dunia industri, khususnya industri kimia tidak cukup hanya mengejar keuntungan, melainkan harus beroperasi dengan selamat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Keselamatan proses tak bisa dipandang sekadar formalitas regulasi, melainkan harus menjadi budaya yang menjiwai setiap lini operasi. Tegasnya, keselamatan proses harus mengalir dalam setiap tahap produksi, dan menjadi kesadaran kolektif seluruh pelaku industri. Sebab, tragedi tidak pernah menunggu. Karena itu, sebelum kita dipaksa belajar dengan cara yang pahit, mari menempatkan keselamatan proses sebagai prioritas utama dalam membangun industri yang benar-benar berkelanjutan di negeri kita.
Jawa Timur Episentrum Risiko
Jawa Timur bisa disebut jantung industri kimia Indonesia. Gresik dengan pabrik pupuknya, Tuban dengan petrokimianya, hingga deretan pabrik di Sidoarjo dan Pasuruan. Semuanya menjadi penopang ekonomi nasional. Namun, di balik skala besar itu, tersimpan pula potensi risiko yang tak kalah besar.
Kita tidak perlu menunggu tragedi berskala internasional untuk sadar. Kebocoran amonia di Gresik yang membuat warga panik, ledakan tangki di Sidoarjo yang memerahkan langit malam, hingga pencemaran limbah di Lamongan yang memusnahkan ikan di sungai, semuanya adalah alarm yang nyaring. Mungkin tidak sebesar Bhopal, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa sistem keselamatan proses kita masih rapuh.
Industri kimia di Jawa Timur adalah berkah, tetapi ia juga bisa berubah menjadi ancaman bila keselamatan proses hanya dipandang sebagai formalitas. Inilah ujian besar kita, yakni apakah kita rela belajar dari alarm kecil, atau justru menunggu tragedi besar yang jauh lebih mahal harganya?
Prioritaskan Keselamatan Proses
Dalam dunia industri, efisiensi kerap diagungkan, dimana pabrik dirancang agar hemat energi, minim limbah, dan berproduksi optimal. Namun, apa arti semua efisiensi itu bila keselamatan proses tidak menjadi fondasi? Keselamatan proses adalah prasyarat, bukan pelengkap. Ia ibarat ruh yang menjaga agar keberlanjutan industri tidak sekadar jargon, melainkan nyata terlindungi dari potensi bencana.
Salah satu pendekatan yang relevan adalah Layer of Protection Analysis (LOPA), atau perlindungan berlapis. Analogi paling sederhana adalah ketika berkendara, kita tidak cukup hanya mengandalkan rem. Kita juga membutuhkan sabuk pengaman, airbag, hingga marka jalan. Setiap lapisan bekerja saling melengkapi. Begitu pula di industri kimia, sistem pengaman berlapis memastikan bahwa kesalahan kecil tidak berkembang menjadi tragedi besar.
Masalahnya, masih ada perusahaan yang menempatkan standar keselamatan proses sebatas tumpukan dokumen untuk memenuhi regulasi. Cara pandang ini keliru. Keselamatan proses bukan biaya, melainkan investasi. Biaya penerapan keselamatan proses mungkin tampak besar, tetapi jauh lebih kecil dibanding kerugian akibat kecelakaan, yakni mulai dari kerugian materi triliunan rupiah hingga hilangnya nyawa yang tak ternilai.
Di tingkat global, Process Safety Management (PSM) telah menjadi acuan penting. Dengan 14 elemen yang mencakup desain, operasi, hingga pengelolaan risiko. PSM sejatinya tidak hanya melindungi perusahaan, tetapi juga masyarakat dan lingkungan sekitar. Di sinilah letak tanggung jawab moral industri, yakni memastikan bahwa keuntungan tidak pernah ditebus dengan derita publik.
Seperti diingatkan Wangari Maathai, peraih Nobel Perdamaian 2004, “Kita tidak bisa hidup sehat di sebuah planet yang sakit.” Pesan itu relevan untuk kita semua. Keselamatan proses industri bukan semata perkara teknis, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga bumi dan kemanusiaan.
Kolaborasi Tiga Pilar
Keselamatan proses tidak bisa berdiri sendiri. Ia memerlukan ekosistem yang kokoh, yang ditopang oleh tiga pilar utama, yakni perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Ketiganya harus bergerak seiring, saling mengisi, bukan berjalan sendiri-sendiri dengan kepentingan sektoral.
Perguruan tinggi, seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), memiliki peran strategis menyiapkan insinyur yang tidak hanya cakap teknis, tetapi juga berkarakter, dengan kesadaran moral terhadap keselamatan proses dan keberlanjutan. Industri dituntut menghadirkan inovasi sekaligus menjamin setiap proses produksi tidak menimbulkan korban bagi manusia maupun lingkungan. Pemerintah, pada saat yang sama, wajib menghadirkan regulasi yang tegas serta memastikan penegakannya berjalan konsisten.
Bila tiga pilar ini mampu berkolaborasi secara nyata, industri kimia akan menjadi motor pembangunan yang menyejahterakan sekaligus melindungi kehidupan. Namun, jika kolaborasi longgar dan hanya formalitas, industri justru berisiko menjadi bom waktu, yang bisa meledak sewaktu-waktu, menorehkan kerugian ekonomi dan luka sosial yang panjang.
Al Gore, peraih Nobel Perdamaian 2007, pernah mengingatkan bahwa krisis iklim adalah isu moral terbesar abad ini. Hal serupa berlaku bagi keselamatan proses industri, yaitu bukan sekadar perkara teknis, melainkan juga persoalan moral, keberanian, dan tanggung jawab kolektif. Karena itu, kolaborasi tiga pilar bukanlah pilihan tambahan, melainkan syarat mutlak untuk masa depan industri yang benar-benar berkelanjutan.
Jangan Tunggu Tragedi
Kolaborasi itu akan kehilangan makna jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Industri kimia adalah aset strategis bangsa, menopang perekonomian sekaligus menyediakan kebutuhan vital masyarakat. Namun, tanpa kesadaran akan keselamatan proses, aset itu bisa berubah menjadi ancaman. Kebocoran gas, ledakan tangki, atau pencemaran sungai bukan sekadar insiden kecil, melainkan alarm keras yang menuntut keseriusan.
Kita tidak boleh menunggu bencana besar baru bergerak. Keselamatan proses harus ditanamkan sebagai budaya bersama, bukan sebatas aturan di atas kertas. Jika rekayasa sistem dijalankan dengan benar dan keselamatan proses ditempatkan di pusat setiap keputusan, industri kimia akan tetap menjadi berkah, yakni menggerakkan ekonomi, menyejahterakan rakyat, dan menjaga lingkungan.
Ke depan, keberhasilan industri tidak lagi cukup diukur dari laba atau kapasitas produksi, tetapi dari kemampuannya melindungi manusia dan bumi. Dengan paradigma ini, industri kimia Indonesia dapat berdiri sebagai pilar pembangunan berkelanjutan, bukan sebagai bom waktu yang menunggu meledak.
Pada akhirnya, keselamatan proses adalah cermin peradaban kita. Apakah kita memilih belajar dengan kesadaran, atau dipaksa belajar melalui penderitaan? Tragedi tidak pernah memberi aba-aba. Karena itu, mari jadikan keselamatan proses sebagai denyut nadi setiap industri kita.
*) Artikel ini disarikan dari Pidato Pengukuhan Guru Besar, saya, Prof. Ir. Juwari, S.T., M.Eng., Ph.D. dengan judul, “Sustainabilitas Industri Kimia melalui Rekayasa Sistem dan Keselamatan Proses.”, yang dijadwalkan pada Hari Selasa, 23 September 2025, di Gedung Graha ITS.