Resensi buku - Pembuktian Tukang Sampah yang jadi Presiden

id Lee Myung-bak

Resensi buku - Pembuktian Tukang Sampah yang jadi Presiden

Buku Gerobak Lee Myung-bak (Ist)

Kemiskinan bisa dipandang sebagai rasi bintang, agar seseorang bisa menjadikannya pedoman dalam menemukan jalan terang menuju masa depan.
Pepatah Jawa mengatakan: `ana dina, ana upa` -- ada hari, ada nasi. Siratan makna pepatah adalah selama orang tidak malas bekerja, pasti akan mendapatkan rezeki atau sesuap nasi. Rezeki untuk menghindarkan seseorang dari himpitan kemiskinan.

Pepatah ini sekaligus mengandung pengajaran bahwa kemiskinan bukanlah pulasan warna kelam, yang seumur hidup bakal digoreskan pada kanvas hidup seseorang. Justru kemiskinan bisa dipandang sebagai rasi bintang, agar seseorang bisa menjadikannya pedoman dalam menemukan jalan terang menuju masa depan.

Belitan kemiskinan dan pengapnya hidup dalam kesulitan akibat tekanan permasalahan, seharusnya bukan jadi penghalang bagi seseorang untuk menggapai cita-cita, lantas mengerakkan roda nasib supaya berputar menjadi lebih baik.

Sewaktu berpidato di The United States Capitol, Washington DC pada 4 Maret 1933, Franklin Delano Roosevelt dengan tegas mengatakan, masa sulit akan menjadi berharga kalau kita bisa memetik pelajaran darinya. Biarlah masa sulit ini mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh tunduk pada nasib buruk, melainkan, kitalah yang harus selalu berusaha mengubah nasib demi kebahagiaan diri sendiri dan orang lain.

Filosofi agar seseorang tak mudah patah meski hidupnya dikepung, dibelit dan dibekap kemelaratan, menjadi pesan utama dari buku otobiografi yang ditulis Lee Myung-bak, mantan Presiden Korea Selatan.

Judul asli otobiografi adalah `The Uncharted Path`, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Gerobak Lee Myung-bak. Buku setebal 416 halaman ini diterbitkan Pustaka Inspira, yang dimulai dengan catatan penulis:

"Kenangan paling awal masa kecilku adalah membantu Ibu berjualan kue bolu kecil yang diisi selai kacang merah di pasar setempat. Aku tidak ingat tidak pernah bekerja; bekerja selalu menjadi bagian hidupku. Tapi Ibu tak pernah bermimpi lepas dari kemiskinan, atau memaksa kami menjadi kaya raya."

Kemiskinan yang tiada henti mendera meski Lee, kedua orang tua dan saudara-saudaranya telah bekerja keras, membuat mereka setiap hari hanya mampu membeli ampas dari tempat pembuatan minuman keras untuk dikonsumsi. Meski demikian, kemiskinan itu mampu merekatkan ikatan kekeluargaan mereka dan tetap tiada lelah berupaya bekerja untuk bisa makan, tanpa mau bergantung pada belas kasihan orang lain.

"Orang miskin yang kerjanya hanya duduk-duduk menunggu uluran tangan tak akan pernah lepas dari kemiskinan. Bagi orang seperti itu, kemiskinan bagaikan luka bernanah yang tak akan bisa sembuh. Di sisi lain, kemiskinan justru membantu semangatku dan saudara-saudaraku. Kami bertekad tak akan membiarkan kemiskinan mencekik kami" (halaman 25).

Tekad untuk tidak menyerah pada kemiskinan ini, membuat Lee rela melakoni pekerjaan apapun. Apapun pekerjaan itu. Berjualan es krim, buah-buahan, atau bahkan menjadi tukang pengangkut sampah di pasar agar bisa membayar biaya kuliah di Korea University.

Lee menyadari, untuk memutus rantai kemiskinan yang terus membelitnya, yang dibutuhkan adalah memiliki pendidikan yang memadai, supaya ada tangga untuk mendaki pada kehidupan yang lebih baik. Pemahaman akan pentingnya pendidikan, membuat lelaki kelahiran Osaka, Jepang, ini dengan tegar bekerja keras agar kuliahnya tidak terputuskan.

Di tengah-tengah proses kuliah, Lee yang menjadi aktivis mahasiswa kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara. Saat bebas dari penjara, cap sebagai mantan narapidana ini, sempat membuat Lee kesulitan mendapatkan pekerjaan, sampai akhirnya dia nekad menulis surat kepada presiden. Kenekadan ini menuai hasil ketika sekretaris kepresidenan menemuinya, dan Lee akhirnya dapat diterima bekerja di perusahaan konstruksi Hyundai. Secara mengejutkan, berkat dedikasi dan kesungguhan kerjanya, pada usia 35 tahun dia menduduki jabatan sebagai direktur utama di perusahaan itu.

Setelah bergabung menjadi bagian Hyundai Grup selama 27 tahun, Lee kemudian berhenti dan memilih berkarier di ranah politik dengan menjadi anggota dewan. Kariernya makin berkembang ketika Lee terpilih menjadi Wali Kota Seoul, di mana salah satu programnya yang fenomenal ialah merestorasi Cheonggyecheon selama dua tahun. Selanjutnya pada periode 2008, Lee si anak miskin dari Pohang ini, berhasil secara gemilang menjadi Presiden Korea Selatan.

                              `Background` Sejarah

Kelebihan pada buku ini adalah alur ceritanya begitu runtut, tatkala menuturkan perjalanan hidup Lee yang bermula saat kanak-kanak tinggal di Jepang, sampai akhirnya kembali ke Korea Selatan, dalam keadaan terbelenggu kemiskinan yang akut.

Otobiografi ini juga diperkaya dengan `background` sejarah berakhirnya pendudukan Jepang di Korea Selatan dan berkecamuknya Perang Korea, yang menjadi latar pemerkaya warna `Gerobak Lee Myung-bak`. Namun, penggambaran latar itu tetap tidak menutupi pesan utama yang ingin diungkapkan Lee, supaya generasi muda bisa mencapai kesuksesan walaupun menghadapi beragam kesukaran yang menghadang.

Di sisi lain, penggunaan tokoh aku sebagai pelaku utama, membuat otobiografi ini seolah merupakan buku harian Lee, sehingga pembaca tak berjarak ketika menghayati alunan rangkaian hidupnya yang tak pernah sepi dari masalah.

Meski demikian, Lee tidak membingkai otobiografinya untuk tujuan mendapatkan iba, dia justru ingin melecut generasi muda supaya terbangkitkan semangatnya untuk menyongsong hari depan yang lebih cemerlang, melalui pembuktian mau bekerja keras. Tidak luluh dengan kemiskinan, serta tidak luntur tergerus kesengsaraan.

Satu hal yang patut disayangkan, Lee tidak rinci mengungkapkan pergulatan hari-harinya ketika mencalonkan diri sebagai Presiden Korea Selatan, sampai akhirnya mampu meraih kedudukan sebagai orang nomor satu di Negeri Ginseng itu.

Padahal, ketika masih menjabat menjadi Direktur Utama Hyundai atau menapaki karier sebagai Wali Kota Seoul, Lee begitu akurat menuliskan hadangan dan rintangan yang dilaluinya. Namun, sesuai julukan `buldozer` yang melekat padanya, hadangan dan rintangan itu dapat dihadapinya tanpa kegentaran.

Sebaliknya, tentang kehidupannya sebagai orang nomor satu di Korea Selatan, Lee hanya menyatakan: `Aku akan menghabiskan sisa hari sebagai presiden dengan selalu mengingat kehormatan besar yang kuemban dalam melayani Korea. Dan setelah tidak lagi menjabat, aku akan terus melayani` (halaman 404).

Pada halaman yang penghabisan, Lee menyatakan bahwa bagi bocah miskin dari Pohang, perjalanan ini telah menjadi petualangan besar, dan yang terpenting, kehormatan besar. Dan bahwa perjalanan ini belum berakhir.

"Buku yang berisi kisah mengharukan ini, membuat kita yakin bahwa siapapun yang mau berjuang pasti bisa meraih mimpinya," kata penulis buku Mustofa Romdloni, menuliskan kesannya pada sampul belakang otobiografi Gerobak Lee Myung-bak.

*) Penulis buku dan artikel

Pewarta :
Editor: Yanes
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar