IPM kota mataram di atas NTB

id IPM Mataram,Tingkat hunian,Mataram NTB

IPM kota mataram di atas NTB

Dokumen - Sejumlah murid belajar menghitung di sekolah gubuk bambu SD Filiar Dusun Semokan Ruak, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. (Foto ANTARA/Ahmad Subaidi)

Mataram, 18/10 (Antara) - Badan Pusat Statistik Kota Mataram mencatat indeks pembangunan manusia (IPM) mencapai 8,07 atau di atas? IPM Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 7,1.

"IPM Kota Mataram tahun 2017 itu merupakan IPM tertinggi di NTB yang dihitung tanpa tambang," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram, Isya Ansori di Mataram, Kamis.

Menurut dia, tingginya IPM Kota Mataram itu dipicu karena tingkat kesejahteraan masyarakat cukup baik yang memicu peningkatan ekonomi sehingga berdampak pada sektor lain.

"Sebaliknya, apabila sumber daya manusia untuk peningkatan kesejahteraan kurang, bisa memicu pertumbuhan ekonomi yang rendah," katanya.

Namun demikian, lanjut Isya, dari sektor pertanian Kota Mataram tidak bisa mengalahkan kabupaten/kota lainnya karena Mataram bukan daerah penghasil pertanian, listrik dan tambang sehingga sulit untuk digenjot.

Sebagai ibu kota provinsi, Kota Mataram selalu unggul karena didukung oleh sektor jasa dan keuangan, serta pariwisata meliputi perdagangan, hotel, restoran serta laju perbankan.

Khususnya untuk hotel, katanya, menjadi favorit dalam perekonomian karena program pariwisata sedang digalakkan pemerintah daerah, sehingga pertumbuhan hotel di semua kabupaten/kota di daerah ini hampir merata khususnya di Mataram.

Untuk di Kota Mataram, terdapat 137 unit hotel, 28 unit diantaranya adalah hotel berbintang dan sisanya 109 unit hotel nonbintang.

"Hotel-hotel yang ada di Kota Mataram ini, perkembangannya cukup pesat," katanya.

Hal itu dapat dilihat dari tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang yang mencapai 46,56 persen sedangkan TPK hotel nonbintang mencapai 28,20 persen.

TPK tersebut, sambungnya, merupakan TPK sebelum terjadinya gempa bumi, namun setelah terjadi gempa bumi TPK hotel berbintang turun drastis menjadi 28,18 persen sedangkan nonbintang turun menjadi 16,48 persen.

"Harapannya, TPK itu bisa segera normal agar tidak berpengaruh pada sektor lain, termasuk IPM tahun 2018 yang akan dihitung tahun 2019," katanya.