Surabaya (ANTARA) - Mahasiswa adalah kelompok terpelajar yang memiliki idealisme dan peran strategis di masyarakat. Mereka selalu dituntut berperan sebagai agen perubahan (agent of change). Peran yang sungguh tidak mudah dilakukan. Namun, sejarah juga mencatat peran vital mahasiswa dalam segala prahara perubahan zaman. Mereka dari waktu ke waktu bisa memainkan peran kunci dalam melakukan kritik dan memperjuangkan kepentingan masyarakat (Bagong Suyanto, 2024)
Mahasiswa tambah Bagong Suyanto (2024) adalah kelompok intelektual muda yang sering berdiri di garda depan untuk memperjuangkan dan menyuarakan demokrasi, ketidakadilan, dan kepentingan masyarakat. Tuntutan dan optimalisasi peran itu membutuhkan kemampuan dan kapasitas mumpuni melalui penguatan karakter, kapasitas, kompetensi, literasi berkelanjutan.
Tidak dimungkiri bisa menjadi mahasiswa dan mengenyam pendidikan tinggi adalah impian para pelajar. Bahkan bisa dikatakan sebagai anugerah luar biasa di negeri ini. Kita sungguh beruntung bisa merasakan bangku kuliah karena sejauh ini hanya 6,52% penduduk yang berkesempatan bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (perti).
Kata ‘Maha’ yang melekat pada siswa sejatinya memiliki implikasi dan konsekuensi yang kompleks bagi para pembelajar karena lazimnya kata maha selama ini selalu dilekatkan dengan pemilik kuasa. Artinya, para mahasiswa sesungguhnya dari pilihan diksi kata adalah orang terpelajar terpilih yang punya kuasa hebat, akbar, dan juga khusus.
Sungguh menarik mencermati orasi ilmiah sebagai pembekalan maba yang diberikan oleh Prof Bagong Suyanto, Dekan Fisip dalam momen penerimaan maba Unair program magister, spesialis, profesi,dan doktor 2025 di Graha Garuda Mukti, Kampus C Unair (11/02/2025). Sebagai guru besar yang sudah malang melintang dalam riset dan tridharma, ia dengan bijak setengah provokatif mencabar dan mengajak mahasiswa memiliki pikiran subversif agar menjadi peneliti andal dan menjadi agen perubahan.
Subversif bukan dalam pengertian makar memberontak, tetapi lebih kepada upaya membangun cara berpikir lebih mendasar dan radikal, berpikir tidak biasa, bisa menjaga jarak sehingga bisa menawarkan dan melahirkan gagasan baru yang berbeda dari status quo untuk perubahan.
Berpikir subversif sejatinya adalah berpikir kritis dengan cara memandang sesuatu dengan cara yang tidak biasa. Cara berpikir yang melihat fenomena sosial dan alam bukan sebagai hal yang rutin dan bahkan bisa jadi melawan arus. Mengingat selama ini kita banyak terlena dengan keadaan lingkungan di sekeliling sehingga tidak peka dan menjadi penting untuk diberikan perhatian.
Cara berpikir ini menurut Prof Bagong Suyanto (2025) penting dan strategis dimiliki oleh para mahasiswa baru sehingga mereka bisa menghasilkan riset yang berkualitas dan bermanfaat bagi peradaban masyarakat dan lingkungannya.
Sesuatu yang berjalan lumrah pun sepatutnya masih harus ditanyakan dan diteliti agar kita bisa berlatih skeptis dan mengembangkan curiosity. Persis seperti lahirnya teori gravitasi yang tidak sekadar memercayai kebiasaan bahwa semua benda jatuh ke bawah yang dianggap sebagai kelaziman. Ternyata setelah diteliti ternyata ada daya tarik gravitasi bumi.
Prof Bagong Suyanto (2025) melihat banyaknya topik riset yang berserakan di sekitar kita yang bisa diangkat sebagai topik riset yang bermanfaat. Namun. Sungguh aneh bin ajaib hingga kini masih banyak mahasiswa kesulitan membuat judul dan sekadar menentukan topik riset. Bisa jadi hal ini terjadi karena para mahasiswa tidak memiliki rasa ingin tahu, tidak peka, tidak memiliki kemampuan menjaga jarak dengan realitas. Akhirnya banyak mahasiswa yang kesulitan dan gagal menyelesaikan studi.
Kemampuan mahasiswa dalam melihat realitas secara obyektif bisa dimulai dengan melatih rasa ingin tahu (curiosity) terus menerus. Dengan upaya menjaga jarak dengan realitas sehingga diharapkan akan lahir banyak pertanyaan ‘nakal’ mengapa hal itu terjadi, sebab apa, dan bagaimana seharusnya.
Agar mahasiswa bisa menemukan topik riset yang menarik, ia harus peka terhadap fenomena yang terjadi disekelilingnya sebagai problem riset. Dengan demikian tidak ada alasan mahasiswa tidak bisa menemukan topik dan judul riset karena sungguh terlalu banyaknya fenomena berserakan di sekeliling kita yang bisa diangkat sebagai topik riset.
Jangan sampai berlaku pepatah semut diseberang lautan tampak jelas, gajah di pelupuk mata tak nampak. Mahasiswa perlu berlatih kepekaan, tidak terlena dan terjebak kepada rutinitas. Prof Bagong bercerita bahwa Prof Soetandyo Wignyosubroto pernah memberi saran bagaimana modal menjadi peneliti andal. Ia mengatakan jangan pernah berpikir seperti orang sedang pacaran sehingga semua nampak indah, tetapi jadilah mertua yang sedang mencari menantu. Dengan cara berpikir seperti ini maka mahasiswa akan terlatih untuk melakukan evaluasi kritis layaknya para mertua yang selalu menanyakan detail dan mengevaluasi calon menantunya.
Selain itu sebagai peneliti kita diminta untuk tidak gampang percaya pada sebab kejadian yang ada disekitar kita. Kita harus selalu skeptis dan bisa melihat behindnya guna membongkar realitas sesungguhnya. Banyak hidden reality yang bisa diungkap dari fenomena yang terjadi di sekeliling kita.
Hal ini sama seperti yang dilakukan Galileo Galilei yang dengan gagah berani menentang keyakinan gereja pada saat itu. Ia meyakini bahwa matahari yang mengelilingi bumi itu salah dan bumi bersama planet yang lain mengelilingi matahari adalah yang benar. Hingga akhirnya ia dianggap menista agama. Padahal setelah dilakukan riset Geliloe yang terbukti benar
Pembelajar ilmu pengetahuan senantiasa melatih berpikir rasional agar bisa bangun dari tidur dogmatis. Ia tak lelah mencari bukti kebenaran ilmu pengetahuan. Kebenaran ilmiah menuntut pembuktian dan dukungan data yang sahih. Dengan demikian perlu cara berpikir yang memakai metodologi.
Menjadi Agen Perubahan Melalui Riset Aksi
Perti harus konsisten menjadi menara air yang memberi kemanfaatan bagi masyarakat dan lingkungannya. Mahasiswa harus bisa menjadi agen peneliti andal guna memberi solusi atas berbagai masalah yang muncul di lingkungannya.
Riset aksi memiliki momentum dalam konteks ini sehingga hasil kajian bisa digunakan langsung oleh user untuk memberi solusi berkelanjutan. Jangan sampai riset kita hanya menumpuk sebagai kertas kajian dan menjadi bahan bacaan usang di perpustakaan.
Jika kita ingin memperkuat perti sebagai pusat riset unggulan maka riset aksi bisa menjadi alternatif jalan keluar. Bagaimana riset perti bisa menghasilkan teknologi teknologi baru dan inovasi inovasi kecakapan baru didalam masyarakat sambil bisa menunjukkan peluang, kendala, tantangan dan solusinya.
Perti didorong untuk menjadi universitas pengerak perubahan sosial sehingga memiliki power daya ubah lebih cepat. Riset ini bisa menjadi jalan solutif kekinian mengingat tidak memisahkan argumen antara praksis dan teori.
Riset aksi ini mencoba untuk mengubah metode ilmiah (scientific method) menjadi kegiatan untuk perubahan sosial atau yang seringkali dikenal sebagai activism. Mahasiswa tentu saja diharapkan memiliki hasrat dan visi itu jika ingin berkontribusi lebih besar.
Prof Mohammad Nasih Rektor Unair dalam penutup pidatonya juga mengatakan agar mahasiswa bisa mengembangkan sikap humble rendah hati agar hikmah ilmu bisa dengan mudah didapatkan. Ia meminta dikembangkan terus budaya diskusi melalui pertanyaan kritis dengan pikiran yang open mind. Jangan melakukan riset yang replikasi saja sekadar sebagai ajang latihan.
Kita harus melakukan riset yang memiliki kebaharuan, kemanfaatan, dan memiliki daya manfaat dan impact luas di masyarakat
Ia secara khusus meminta agar para mahasiswa bisa belajar lebih tekun dan disiplin agar mahasiswa bisa lulus tepat waktu. Kesempatan belajar di perti ini langka dan sungguh berharga maka ia berpesan manfaatkanlah dengan baik baiknya.
Last but not least, Selamat menjadi peneliti andal progresif dengan mengembangkan pikiran subversif yang positif.
*) Penulis adalah Dosen Fisib UTM sekaligus Peneliti dan Data Analyst SSC